June 19, 2006

hacking telepon

Filed under: Personal, Hack

Akhir-akhir ini banyak anak-anak di komplek rumah gw yang sering nongkrong di depan rumah. Kejadian kayak gini berlangsung sejak ada telepon umum koin di depan rumah gw. Sesekali gw coba merhatiin dari dalam rumah, gw liat dari jendela, ternyata mereka bener-bener bisa telepon tanpa uang koin..jo. Dasar anak remaja, dah dikasih fasilitas, tetep aja diakalin.

Menurut gw, anak-anak di depan rumah sudah malakukan suatu tindakan illegal atau hacking telepon umum. Sebenernya hacking telepon umum udah ada sejak jamannya gw SMA. Hampir tiap hari temen gw kerjaannya nelepooon mulu kalo dah balik sekolah. Coba-coba nge hack beberapa telepon umum koin di jalanan, eh berhasil juga. Hehehe.

Nich dia caranya:
1. Tekan nomor 142 (atau free call) setelah gagang di angkat.
2. Kalo udah bunyi stand-by-off, teken 1111111111….. yang banyak dan kecepatannya yang konstan, gak usah terlalu cepet dan terlalu lambat.
3. Kalo udah bunyi stand-by-on, berarti berhasil. baru pencet no. telp yang dituju. Tapi sayang, cuma lokal doang.
4. Kalo gagal?? Ya coba aja lagi.

Cara di atas hanya berlaku di beberapa telepon umum. Yang gw coba bisa, di daerah citeureup, daerah terminal baranang siang bogor (walaupun ada beberapa yang gak bisa), sekolah SMA gw, depan rumah gw (pastinya). Kalo nggak bisa juga, pasti udah diganti sama orang telkomnya. Ato bisa cari telepon umum butut yang masih berfungsi, biasanya bisa (tapi sekarang mana ada telepon umum butut yang masih berfungsi).

Itu baru telepon umum, gimana kalo yang elitan dikit. Wartel!! Weits..jangan salah, ternyata wartel juga masih bisa di hack lo. Tapi ini berlaku hanya wartel kelas 2 atau kelas 3 (nggak terlalu bagus billingnya).

Caranya lumayan agak ribet…

  1. Sebagai contoh, gw mo coba nelepon temen gw di bogor dari depok, kalo ke bogor pasti interlokal dong. Misal nomornya 0251-3219—

  2. Tekan nomor yang dituju.

  3. Tekan tombol penutup.

  4. Tekan tombol redial

Nah, lo coba liat di layar monitor billing wartel, setelah lo tekan tombol redial, ada angka 0 (nol) nya nggak? Kalo masih ada, lo coba lagi sampe nggak ada angka 0 (nol) nya. Kalo gw tadi nge dial 0251-3219—, gw akan ngedapetin nomor 251-3219—(tanpa angka 0). “Dimana bedanya ada angka 0 sama nggak ada?”. Yang ngebedain ada atau tidaknya angka 0 di depan nomor adalah tipe koneksi kita, kalo ada angka 0, telkom akan menganggap kita menelepon secara Interlokal, kalo nggak ada 0 nya sama aja dengan telepon lokal.

Jadi sebenernya yang kita lakukan adalah merubah biaya interlokal menjadi biaya lokal. Hasil print di operator juga akan tercetak biaya lokal. Kalo keseringan bisa ketauan juga sama operatornya. Gw coba di beberapa wartel deket rumah, ada yang bisa ada yang nggak, tapi operatornya sempet curiga sama tampang imut gw (haaiyaaah).

NB: cerita ini hanya fiktif belaka, kalo ada kesamaan karakter dan kejadian, mohon dimaafkan.

just sharing, just info—hacking is unlimited

June 9, 2006

all of bout hacking

Filed under: Hack

Pengertian:

Hack
[Secara Umum]

  1. Pekerjaan yang dilakukan secara cepat dan berhasil, walau tidak sempurna.

  2. Suatu hal mustahil, dan mungkin menghabiskan banyak waktu tetapi menghasilkan yang diinginkan.

  3. Untuk membuktikan baik secara emosional ataupun fisik bahwa ini bisa dilakukan.

  4. Mengerjakan sesuatu secara bersungguh-sungguh, dengan ketelitian yang tinggi.

  5. Berinteraksi dengan komputer dalam bermain dan bereksplorasi.

  6. Kependekan dari hacker.

Hacker
[Aslinya, seseorang yang membuat kerajinan dengan kapak]

  1. Seseorang yang sangat senang mengeksplorasi suatu program dari suatu system untuk untuk mengetahui batas kemampuannya, dengan mengunakan cara-cara dasar yang akan digunakan oleh orang yang tidak mengerti dan mengetahui bagaimana program itu dibuat dan dengan pengetahuan minimum terhadap program.

  2. Seseorang yang sangat antusias dalam membuat program, dan lebih menikmati membuat program dibandingkan berteori tentang program tersebut.

  3. Seseorang yang mampu melakukan “hack”.

  4. Seseorang yang sangat baik dalam memprogram.

  5. Ahli pemrograman, atau sering melakukan pekerjaan dengan program itu.

  6. Ahli yang tertarik dengan semua hal, contoh hacker di bidang astronomy.

  7. Seseeorang yang senang dengan tantangan intelektual dengan ide kreatif

  8. Seseorang yang secara sembunyi-sembunyi berusaha menemukan informasi penting dengan cara menjelajah, lebih sering disebut sebagai cracker.

Crack

  1. Memaksa masuk kedalam suatu sistem.

  2. Kegiatan menghilangkan copy protection.

  3. Program, instruksi yang digunakan untuk menghilangkan copy protection.

Cracker

  1. Seseorang yang mencoba masuk kedalam suatu jaringan secara paksa dengan tujuan mengambil keuntungan dan merusak.

  2. Seseorang yang menghilangkan copy protection.

  3. Seseorang yang melakukan kegiatan “crack”

Cracking

Kegiatan membobol suatu sistem komputer dengan tujuan menggambil keuntungan merusak dan menghancurkan dengan motivasi tertentu.

Jargon File memuat beberapa definisi untuk kata ‘hacker’, hampir semuanya berkaitan dengan kemahiran teknis serta kegemaran menyelesaikan masalah dan mengatasi keterbatasan. Namun jika ingin menjadi seorang hacker, hanya ada dua definisi yang relevan.

Ada sebuah komunitas, budaya, terdiri dari para programer mahir dan ahli jaringan, yang sejarahnya bermula dari dekade minikomputer pertama yang memiliki time-sharing dan zaman eksperimen awal ARPAnet. Dari anggota budaya inilah muncul istilah ‘hacker’. Hackerlah yang membangun internet. Hackerlah yang membuat sistem operasi Unix menjadi seperti sekarang. Hackerlah yang mengoperasikan Usenet. Hacker yang membuat World Wide Web berjalan. Jika Anda bagian dari budaya ini, jika Anda telah menyumbangkan sesuatu untuk budaya ini, dan rekan lain di dalamnya mengenali Anda sebagai seorang hacker, maka seorang hackerlah Anda.
Cara pikir hacker tidak terbatas pada budaya hacker software. Ada orang yang menerapkan sikap hacker pada banyak bidang lain, elektronik atau musik—bahkan, cara pikir hacker ada di tingkat tertinggi setiap bidang ilmu dan seni. Hacker software mengakui semangat serupa ini dan kadang menyebut orang-orang tersebut “hacker” pula—sebagian juga berpendapat bahwa sifat seorang hacker tidak bergantung pada wadah tempatnya bekerja. Tapi, untuk selanjutnya, kita akan memusatkan perhatian pada software hacker, keahlian dan sikap mereka, serta tradisi budaya bersama yang melahirkan istilah hacker.

Terdapat pula sekelompok lain yang menyebut-nyebut diri hacker, padahal bukan. Mereka-mereka ini (terutama terdiri dari remaja pria) mendapat kepuasan lewat membobol komputer dan mengakali telepon (phreaking). Hacker sejati menyebut orang-orang ini ‘cracker’ dan tidak suka bergaul dengan mereka. Hacker sejati memandang cracker sebagai orang malas, tidak bertanggung jawab, dan tidak terlalu cerdas. Hacker sejati tidak setuju jika dikatakan bahwa dengan menerobos keamanan seseorang telah menjadi hacker, sama seperti jika dikatakan bahwa mengontakkan mobil membuat seseorang langsung menjadi ahli mesin. Sayangnya, wartawan dan penulis telah salah kaprah dan menggunakan kata ‘hacker’ untuk melukiskan cracker; sesuatu yang selalu membuat kesal para hacker sejati.
Perbedaan mendasar antara hacker dan cracker: hacker membangun, cracker membongkar.

Etika Hacker

  1. Kepercayaan bahwa berbagi informasi adalah suatu hal yang sangat baik dan berguna, dan sudah merupakan kewajiban (kode etik) bagi seorang hacker untuk membagi hasil penelitiannya dengan cara menulis kode yang “open-source” dan memberikan fasilitas untuk mengakses informasi tersebut dan menggunakan peralatan pendukung apabila memungkinkan.

  2. Keyakinan bahwa “system-cracking” untuk kesenangan dan eksplorasi sesuai dengan etika adalah tidak apa-apa [OK] selama seorang hacker, cracker tetap komitmen tidak mencuri, merusak dan melanggar batas-batas kerahasiaan.

    =(di ambil,diartikan dan diedit dari the jargon file (versi 4.4.4) )=


“Yang menarik,ternyata dalam dunia hacker terjadi strata-strata (tingkatan) yang diberikan oleh komunitas hacker kepada seseorang karena kepiawaiannya, bukan karena umur atau senioritasnya. Saya yakin tidak semua orang setuju dengan derajat yang akan dijelaskan disini,karena ada kesan aroganterutama pada level yang tinggi. Untuk memperoleh pengakuan/derajat, seorang hacker harusmampu membuat program untuk eksploit kelemahan sistem, menulis tutorial (artikel), aktif diskusi di mailing list, membuat situs web dsb.”

Hirarki Hacker

Mungkin agak terlalu kasar jika disebut hirarki/ tingkatan hacker; saya yakin istilah ini tidak sepenuhnya bisa di terima oleh masyarakat hacker. Oleh karenanya saya meminta maaf sebelumnya. Secara umum yang paling tinggi (suhu) hacker sering di sebut ‘Elite’; di Indonesia mungkin lebih sering di sebut ‘suhu’.Sedangkan, di ujung lain derajat hackerdikenal ‘wanna-be’ hacker atau dikenal sebagai ‘Lamers’.

Elite:
Juga dikenal sebagai 3l33t, 3l337, 31337 atau kombinasi dari itu; merupakan ujung tombak industri keamanan jaringan. Mereka mengerti sistemoperasi luar dalam, sanggup mengkonfigurasi & menyambungkan jaringan secara global. Sanggup melakukan pemrogramman setiap harinya. Sebuah anugrah yang sangat alami, mereka biasanya effisien & trampil,menggunakan pengetahuannya dengan tepat. Mereka seperti siluman dapat memasuki sistem tanpa di ketahui, walaupun mereka tidak akan menghancurkan data-data. Karena mereka selalu mengikuti peraturan yang ada.

Semi Elite:
Hacker ini biasanya lebih mudadaripada Elite.Mereka juga mempunyai kemampuan & pengetahuan luas tentang komputer. Mereka mengerti tentang sistem operasi (termasuk lubangnya). Biasanya dilengkapi dengan sejumlah kecil program cukup untuk mengubah program eksploit. Banyak serangan yang dipublikasi dilakukan oleh hacker kaliber ini, sialnya oleh para Elite mereka sering kali di kategorikan Lamer.

Developed Kiddie:
Sebutan ini terutama karena umur kelompok ini masih muda (ABG)& masih sekolah. Mereka membaca tentang metoda hacking & caranya di berbagai kesempatan. Mereka mencoba berbagai sistem sampai akhirnya berhasil & memproklamirkan kemenangan ke lainnya.Umumnya mereka masih menggunakan Grafik User Interface (GUI) & baru belajar basic dari UNIX, tanpa mampu menemukan lubang kelemahan baru di sistem operasi.

Script Kiddie:
Seperti developed kiddie, Script Kiddie biasanya melakukan aktifitas di atas. Seperti juga Lamers, mereka hanya mempunyai pengetahuan teknis networking yang sangat minimal. Biasanya tidak lepas dari GUI. Hacking dilakukan menggunakan trojan untuk menakuti & menyusahkan hidup sebagian pengguna Internet.

Lamer:
Mereka adalah orang tanpa pengalaman & pengetahuan yang ingin menjadi hacker (wanna-be hacker). Mereka biasanya membaca atau mendengar tentang hacker & ingin seperti itu. Penggunaan komputer mereka terutama untuk main game, IRC, tukar menukar software prirate, mencuri kartu kredit. Biasanya melakukan hacking menggunakan software trojan, nuke & DoS. Biasanya menyombongkan diri melalui IRC channel dsb. Karena banyak kekurangannya untuk mencapai elite, dalam perkembangannya mereka hanya akan sampai level developed kiddie atau script kiddie saja.

Etika & Aturan main Hacker

  1. Di atas segalanya, hormati pengetahuan & kebebasan informasi.

  2. Memberitahukan sistem administrator akan adanya pelanggaran keamanan/ lubang di keamanan yang anda lihat.

  3. Jangan mengambil keuntungan yang tidak fair dari hack.

  4. Tidak mendistribusikan & mengumpulkan software bajakan.

  5. Tidak pernah mengambil resiko yang bodoh

  6. Selalu mengetahui kemampuan sendiri.

  7. Selalu bersedia untuk secara terbuka/ bebas/ gratis memberitahukan& mengajarkan berbagai informasi & metoda yang diperoleh.

  8. Tidak pernah meng-hack sebuah sistem untuk mencuri uang.

  9. Tidak pernah memberikan akses ke seseorang yang akan membuat kerusakan.

  10. Tidak pernah secara sengaja menghapus & merusak file di komputer yangdihack.

  11. Hormati mesin yang di hack, dan memperlakukan dia seperti mesin sendiri.

Jelas dari Etika & Aturan main Hacker di atas, terlihat jelas sangat tidak mungkin seorang hacker betulan akan membuat kerusakan di komputer.

diambil dan diedit berdasarkan tulisan: Onno W. Purbo dan Eric S. Raymond